SIKAP BAHASA MANUSIA INDONESIA SEBAGAI PRAKTIK KEBERBAHASAAN DALAM PERSPEKTIF KE-AUSTRONESIAAN

Isi Artikel Utama

Arif Setyawan

Abstrak

Realitas kebahasaan manusia Indonesia menunjukkan adanya ragam bahasa, meliputi bahasa daerah, bahasa asing, dan bahasa Indonesia. Sayangnya, sikap Bahasa manusia Indonesia sebagai sebuah praktik keberbahasaan menunjukkan gejala yang negatif. Praktik keberbahasaan tersebut terbentuk melalui pondasi ragam habitus dengan dukungan ragam sekaligus pertaruhan modal dan pertimbangan ragam ranah yang dipengaruhi oleh dominasi praktik agen-agen pendominasi. Gejala negatif sikap bahasa sepatutnya tak terjadi, mengingat ke-Austronesiaan di Indonesia menjadi hal yang tak dapat dipungkiri, baik dalam konteks kesejarahan, sosio-kultural, hingga keberbahasaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kesadaran ke-Austronesiaan menjadi hal penting bagi manusia Indonesia guna menumbuh-kembangkan sikap bahasa sebagai praktik keberbahasaan yang mampu menempatkan realitas kebahasaan dengan bijak.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Setyawan, A. . (2020). SIKAP BAHASA MANUSIA INDONESIA SEBAGAI PRAKTIK KEBERBAHASAAN DALAM PERSPEKTIF KE-AUSTRONESIAAN. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 185-195. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.21
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Bahasa-Bahasa Daerah yang Telah Punah (info grafis). Diunduh dari indonesiabaik.id pada 8 Maret 2020.

Bahasa Daerah yang Terancam Punah (info grafis). Diunduh dari indonesiabaik.id pada 8 Maret 2020.

Bahasa Daerah yang Alami Kemunduran (info grafis). Diunduh dari indonesiabaik.id pada 8 Maret 2020.

Collins, James T. (2014). Keragaman Bahasa dan Kesepakatan Masyarakat: Pluralitas dan Komunikasi. Dialektika Vol. 1 No. 2 bulan Desember, 149-180.

Heine-Geldern. (1945). Science dan Scientists in the Netherland. Phrehistoric Research in the Netherlands Indies. New York.

Mulyaningsih, Indriya. (2017). Sikap Mahasiswa Terhadap Bahasa Indonesia. Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember, 79-87.

Nasoichah, Churmatin. (2020). Kajian Linguistik Historis Komparatif Terhadap Bahasa Melayu Kuno Pada Penulisan Prasasti Panai. Purbawidya: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 9 (1) bulan Juni, 15-30.

Kridalaksana, Harimurti. (2018). Masa-masa Awal Bahasa Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.

UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan Pembinaan Dan Pelindungan Bahasa Dan Sastra Serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia.

Peraturan Mendikbud Nomor 42 Tahun 2018 yang menyatakan bahwa Kebijakan Nasional Kebahasaan dan Kesastraan bertujuan memberikan acuan untuk mengatur perencanaan, pengarahan, dan penyusunan garis haluan kebahasaan yang dipakai sebagai dasar pengelolaan seluruh masalah kebahasaan dan kesastraan.

Simanjuntak, Truman. (2015). Progres Penelitian Austronesia di Nusantara. Amerta: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 33 No.1 bulan Juni, 1-76.

Subiyatningsih, Foriyani. (2016). Sikap Bahasa Remaja: Kasus Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Rubrik “Deteksi” Jawa Pos. Madah, Volume 7, Nomor 2, Edisi Oktober, 147-158.

Tanudirjo, Daud Aris. (2019). Mempertanyakan Austronesia, Meneguhkan Identitas Indonesia. Jejak Austronesia di Indonesia. Harry Widianto (Ed). Yogyakarta: UGM Press.

HASIL DISKUSI

Tanggapan

Dr. Rani Siti Fitriani, M.Hum (Universitas Islan Nusantara)

Saya ingin memberikan tanggapan kepada Dr. Arif mengenai sikap bahasa penutur pada bahasa daerah. Saya pernah melakukan penelitian mengenai sikap remaja Bandung terhadap Bahasa Sunda. Alasan mereka ‘enggan’ untuk menggunakan Bahasa daerah karena

dalam bahasa daerah mengenal tingkat tutur sehingga membuat mereka bingung ketika salah menggunakannya. Misalnya kata ‘makan’ dalam Bahasa Sunda ada mam, dahar, dll. Kata ‘tidur’ he et, bobo, sare, dll.

tingkat tutur berkaitan dengan tata krama sehingga mereka selalu diingatkan dengan orang yang lebih tua untuk menggunakan bahasa yang benar/tepat sehingga mereka memilih menggunakan Bahasa Indonesia karena tidak ada tingkat tuturnya. Sama halnya dengan Bahasa Jawa, bahasa ini banyak tersebar tapi tidak dijadikan bahasa yang (universal? Seperti melayu?) karena ada tingkat tuturnya. Lain halnya dengan Bahasa Indonesia.

kurang keren atau agak gengsi. Ada pergeseran. Berkaitan dengan kepunahan Bahasa Indonesia, saat ini saya pengurus aliansi penggiat Bahasa Indonesia untuk penutur Bahasa Asing, luar biasa perkembangan Bahasa Indonesia ke luar negeri. Hanya tidak dipungkiri, di dalam negeri justru menggunakan Bahasa Asing. Seperti di pesawat, cafe, dll. Selain itu, harus ada revitalisasi untuk bahasa daerah seperti di Papua. Tapi mengenai Bahasa Indonesia, akankah punah? Menurut saya insyaAllah akan hidup.”

Dr. Retno Purwanti, M.Hum (Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Untuk bahasa Indonesia justru saya yakin akan berkembang karena kepala negara se-Asia Tenggara bahwa bahasa indonesia menjadi bahasa resmi asean. Di beberapa negara baik di asia beberapa perguruan tinggi yang fakultasnya ada jurusan bahasa indonesia. Kok di indonesia generasi milineal yang tergila-gila dengan korea belajar bahasa korea, justru artis korea yang belajar bahasa indonesia. Soal pemusnahan bahasa daerah, setelah kami mendapatkan manuskrip-manuskrip dengan akasara lokal, kami bisa mengalih aksarakan tapi kesulitan saat ingin mengetahui isinya. Karena bahasa yang tertulis itu sudah tidak dikenali bahasa saat ini. Beberapa masih dikenali, namun kebanyakan sudah tidak dikenali. Di Sumatera Selatan sendiri ada 69 bahasa pengakuan, sedikit penuturnya. Kepunahan itu amat sangat mengganggu terutama untuk mengetahui isi dari tulisan (naskah-naskah).

Dr.Yayat Hendayana, M.Hum (Universitas Pasundan)

Membericarakan sikap bahasa, kita baca peraturan Presiden yang mewajibkan seluruh pejabat di Indonesia untuk menggunakan Bahasa Indonesia. Satu hal yang diutarakan Gubernur Jawa Barat, keinginan penggunaan bahasa asing agar program yang dikeluarkan bernuansa global. Saya kira tidak harus begitu, gunakan Bahasa Indonesia dan agar program dikenal oleh masyarakat luas bisa dikenal dengan cara-cara lain. Luar biasa sekali penggunaan bahasa asing seperti car free day, san diego hills, dll. Kenapa tidak seperti disini Kota Baru Parahyangan. Tidak ada alasan menggunakan bahasa asing lebih laku dibandingkan dengan bahasa daerah. Teman-teman di Balai Bahasa Bandung pernah mengeluarkan program yang bernama Upaya Pemartabatan Bahasa Indonesia. Kalau ada upaya pemartabatan berarti Bahasa Indonesia sudah tidak bermatabat lagi dan kenyataanya memang begitu. Terkait dengan generasi muda yang tidak suka bahasa sunda, yang salah adalah cara mengajarkan bahasa sunda, mereka mengajarkan bahasa sunda sebagai ilmu bukan sebagai alat komunikasi. Hal yang lain, banyak guru yang mengajarkan bahasa sunda tapi tidak memiliki latarbelakang Bahasa Sunda, seperti di daerah Kuningan ada guru yang mengajar Bahasa Sunda justru dari orang Batak, karena dia bisa Bahasa Sunda. Jadi ukurannya karena dia bisa Bahasa Sunda saja bukan ilmu mendidik. Mestinya yang harus ditumbuhkan di kelas 1 sekolah dasar mereka gembira menggunakan Bahasa Sunda. Banyak yang mesti kita perbaiki dari dunia pendidikan kita. Itu saya kira beberapa penjelasan.

Tanggapan Pemakalah

Terimakasih untuk Bu Rani untuk masukannya. Dalam paktik kebahasanan, kita juga harus modal kebahasaan. Terkadang anak-anak yang lebih muda, terdominasi melalui tv misalnya ada artis yang suka Bahasa Inggris. Dari habitus itu secara sadar ia bisa menggunakan Bahasa Inggris pada saat praktek. Tapi dengan sikap Bahasa Asing dalam keilmuan ya jangan benci-benci amat.

Terimakasih juga untuk Pak Yayat, memang untuk yang menggunakan Bahasa Asing (keinggris-inggrisan) itu seperti hotel, bisnis sandal, fashion, kalo makanan jarang pake bahasa inggris. Data itu saya dapat di Surakarta.