PROSES DESAIN MUSEUM SITUS PENINGGALAN PERADABAN AUSTRONESIA SEBAGAI MEDIA KONSERVASI DAN TUJUAN WISATA ARKEOLOGI

Isi Artikel Utama

Adli Nadia
Doni Fireza

Abstrak

Situs arkeologi yang merupakan salah satu rute migrasi manusia preshistoris berjumlah sangat banyak di pulau Jawa. Situs ini memiliki kandungan yang sangat berharga dari sisi ilmu pengetahuan hingga potensi pariwisata, namun seringkali dua hal diatas berjalan secara bertolak belakang. Apabila ditinjau dari ilmu pengetahuan, aset-aset bersejarah tersebut seharusnya dipreservasi dan dikonservasi agar jejak-jejak peradaban masa lalu dapat terus ditelusuri, sedangkan apabila ditinjau dari pariwisata, semakin banyak wisatawan yang datang artinya potensi rusaknya aset-aset bersejarah baik disengaja maupun tidak disengaja juga akan semakin tinggi, padahal sumbangan pendapatan daerah dari kunjungan wisatawan ini tergolong signifikan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan dan dibutuhkan untuk mendanai penelitian dan peratawan situs terkait. Riset ini bertujuan untuk menggali sebuah model proses perancangan museum yang kontekstual dan sekaligus berfungsi untuk preservasi dan konservasi sekaligus mewadahi pariwisata. Metoda penelitian yang akan digunakan untuk penelitian ini adalah gabungan dari interpretasi historis dan fenomenologi serta gabungan dengan metoda berpikir matematis untuk mendapatkan kemungkinan terbaik dalam merespon konteksnya.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Nadia, A. ., & Fireza, D. (2020). PROSES DESAIN MUSEUM SITUS PENINGGALAN PERADABAN AUSTRONESIA SEBAGAI MEDIA KONSERVASI DAN TUJUAN WISATA ARKEOLOGI. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 225-234. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.25
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Australia ICOMOS. (2013). The Australia ICOMOS Charter for Places of Cultural Significance, 2013. The Burra Charter. https://doi.org/363,690994

Bianchini, R. (2017). Museo Parc Alesia archaeological site. https://www.inexhibit.com/mymuseum/museoparc-alesia-bourgogne/

International Council of Museums. (2017). iCom Code of ethiCsfor museums. Maison de l’UNESCO. https://icom.museum/wp-content/uploads/2018/07/ICOM-code-En-web.pdf

Ioannidis, C., Xipnitou, M., Potsiou, C., & Soile, S. (2003). The Contribution Of Modern Geometric Recording And Visualization Methods In The Implementation Of A New Museum Concept. Proceedings of the XIX International Symposium of CIPA.

Matero, F. (2006). Making Archaeological Sites: Conservation as Interpretation of an Excavated Past. In Of the Past, for the Future: Integrating Archaeology and Conservation.

Mosler, A. S. (2006). Landscape Architecture On Archaeological Sites Establishing landscape design principles for archaeological sites by means of examples from West. Fakultät Für Architektur.

Wise, C., & Erdos, A. (1975). Museum Architecture, Museum, XXVI (C. Wise (ed.)). UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000127357

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Retno Purwanti (Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Mengapa harus dibuat museum di situ?

Jawaban

Terkait dengan zonasi, jadi kita pun bertanya mengenai hal tersebut kepada narasumber salah satunya Pak Luthfi karena menurut arkeolog sendiri ada zona yang paling aman untuk museum. Kajian tentang zonasinya memang belum ada. Memang perlu ada riset di awal, tapi kita bukan arkeolog dan kita juga tidak menguasai hal tersebut jadi kita coba langsung lari ke model museumnya.

Lalu kenapa Nyai Subang Larang digabung dengan Austronesinya, itu karena inisiatif kami karena biasanya pengunjung datang untuk melihat situs Nyai Subang Larangnya bukan karena fosil manusia austronesianya. Kita juga baru tau rangka itu jadi barulah anak-anak SD yang mempelajari manusia prasejarah mereka bisa melihat secara langsung. Sayangnya untuk pengunjung yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan itu lebih datang untuk melihat Nyai Subang Larangnya. Agak sulit untuk memilih salah satu ini karena dari sisi keuangan bisa saling menghidupi. Selain itu terkait dengan artefak yang diletaknya in situ mungkin terkait dengan bagannya Mas Erwin mengenai museum yang terbagi menjadi museum tradisional, modern, pascamodern. Kondisi saat ini museum kita lebih kepada museum tradisional karena sifatnya satu arah. Dengan adanya konsep artefak yang in situ diharapkan pengunjung dapat lebih dekat dengan artefaknya. Oleh sebab itu kami berusaha bergeser dari tradisional ke modern/pascamodern supaya interpretasi anak-anak terbangkitkan dan harapannya untuk media dan ruang edukasi tetapi jika memang ada zonasi yang melarang, kita akan pindahkan.

Saran

Penentuan Zonasi sebaiknya dilakukan melalui riset tersendiri yang lebih mendalam.

Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan tahapan simulasi dan verifikasi pada masyarakat, pengelola, serta pemerintah daerah setempat.