SIMBOL KESUCIAN DALAM KOMUNIKASI RITUAL MASYARAKAT KADAYAN SARAWAK

Isi Artikel Utama

Mohamad Maulana Magiman
Norhuda Salleh
Ahmad Nasir Mohd Yusoff

Abstrak

Komunikasi ritual dalam sesebuah masyarakat sudah tidak asing lagi terutamanya yang berkaitan dengan upacara ritual. Bagi masyarakat pengamal, ritual dijadikan sebagai sumber untuk menyampaikan hasrat yang dihajati melalui pelbagai bentuk persembahan. Persembahan ini lah yang dijadikan alat komunikasi yang berbentuk verbal dan non-verbal dengan memperlihatkan pelbagai bentuk-bentuk simbol. Simbol itu kemudiannya diungkap melalui bentuk-bentuk komunikasi ritual yang hanya difahami oleh masyarakat pengamalnya. Makalah ini membincangkan peranan simbol keagamaan yang terdapat dalam komunikasi ritual masyarakat Kadayan di Sarawak. Data kajian diperoleh melalui keadah etnografi di lapangan yaitu di daerah Sibuti, Sarawak. Data kajian kemudiannya dianalisis menggunakan Teori Ritual Turner yang melihat simbol dalam ritual digunakan untuk tujuan kebersamaan. Hasil kajian mendapati komunikasi ritual yang dilaksanakan dalam sesebuah masyarakat mengandungi tiga peranan utama yaitu pemikiran, diri dan masyarakat. Ianya penting kerana tanpa pemahaman yang jelas ia akan mewujudkan krisis kehidupan dalam sesebuah masyarakat.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Maulana Magiman, M. ., Salleh, N. ., & Nasir Mohd Yusoff, A. . (2020). SIMBOL KESUCIAN DALAM KOMUNIKASI RITUAL MASYARAKAT KADAYAN SARAWAK. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 235-246. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.26
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Abdur Rahman Madjrie (1989). Meluruskan tauhid: Kembali ke Aqidah Salaf. Bandung: Prima Press.

Arnold Van Gennep (1960), Rites of Passage. Chicago: University of Chicago Press.

Carey, James W. (1992). Communication as Culture: Essays on Media and Society. Newyork: Routledge.

Catherine M. Bell. (1992). The Ritual Theory: Ritual Practice. London: Oxford University Press.

Couldry, Nick. (2005). Media Rituals; Beyond Functionalism., dalam Media Anthropology. Editor: Eric W. Rothenbuhler dan Mihai Coman. Thousand Oaks: SAGE Publications.

Mary Douglas (1966). Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. Routledge & Keegan Paul, London

Mary Douglas (1970). Natural Symbol, Explorations in cosmology. Barrie & Jenkins, London.

McQuail, Denis. (2000). McQuail’s Mass Communication Theory. London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.

Mohamad Maulana Magiman, Othman Yatim (2012), “Simbol dalam Makan Tahun Masyarakat Kadayan, Sarawak”, Jurnal Melayu (9), hlm. 259-287

Mohamad Maulana Magiman (2012). Ritual ‘Makan Tahun’ Masyarakat Kadayan di Kampung Selanyau, Daerah Kecil Bekenu Sarawak. Jabatan Sosio-Budaya, Akademi Pengajian Melayu. Kuala Lumpur: Universiti Malaya

Mulyana, Deddy. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. (2006). Metode Penelitian Komunikasi. Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung. Rosdakarya.

Mulyana, Deddy. (2007). Metode Penelitian Komunikasi. Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung. Rosdakarya.

P. M. Shariffudin (1969), “The Kadayan”, The Brunei Museum Journal 1(1), hlm. 15-23

Rothenbuhler, Eric W. (1998). Ritual Communication: From Everyday Conversation to Mediated Ceremony. Thousand Oaks. SAGE Publications.

Rothenbuhler, Eric W. dan Mihai Coman. (2005). The Promise of Media Anthropology, dalam Media Anthropology. Editor. Eric W. Rothenbuhler dan Mihai Coman. Thousand Oaks. SAGE Publications.

Roy A. Rappaport. (1999). Ritual and Religion in the Making of Humanity. United Kingdom : Cambridge Universiti Press.

Spradley, james P. (1997). Metode Etnografi. Yogyakarta: PT tiara Wacana.

Thomas F. O’Dea. (1994). Sosiologi Agama : Suatu Pengenalan Awal. Jakarta : Manajemen Pt RajaGrafindo Persada.

Victor Turner. (1957). Schism and Continuity in an African society : A study of Ndembu Village Life. Manchester, England : Manchester University Press.

Victor Turner. (1967). The forest of symbols: Aspects of Ndembu ritual. Ithaca: Cornell University Press.

Victor Turner. (1969). The Ritual Process : Structure and Anti-Structure. New Brunswick and London : Aldine Transaction.

Victor Turner. (1980). From Ritual to Theater The Human Seriousness of Play. New York : PAJ Publication.

Victor Turner. (1974). Drama, Field and Metaphore : Symbolic Action in Human Society, Ithana and London : Cornell University Press.

Zawawi Haji Ahmad. (2008). Tafsiran Surah Yasin dari Perseptif Sains dan Sejarah. Al-Muttaqin: Mesir

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Hartatik, S.S., M.S (Balai Arkeologi Kalimantan Selatan)

Saya baru tau Pak (perihal orang Jawa di Serawak). Setau saya di perbatasan Kalimantan Utara dengan Serawak itu ada beberapa suku yang punya keahlian bertani seperti Dayak Mendayah di daerah Krayan (perbatasan Kalimantan dengan Malaysia). Kenapa malah dari Sultan Bolkiah yang membawa padi? Motivasinya apa? Kemudian mengapa masyarakat Kadayan lebih religius?

Jawaban

Sultan Bolkiah sudah pernah singgah di Pulau Jawa, setelah melihat pertanian yang begitu subur kemudian dia menugaskan 40 orang untuk menanam padi di Brunei tapi kawasan Brunei tidak terlalu subur karena dibawah (tanah) Brunei itu lebih menghasilkan minyak. Jadi masyarakat Jawa berpindah ke Sabah dan Serawak, dan pada akhirnya menjadi penanam padi. Setelah itu terjadi perkawinan dan munculah masyarakat Kadayan. Terkait dengan religius, walaupun konsep animisme itu masih ada tetapi pengaruh Islam telah menyerap kedalam masyarakat Kadayan ini. Secara keseluruhan, masyarakat Kadayan ini adalah masyarakat Islam.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama