MELACAK JEJAK BUDAYA AUSTRONESIA DI KAWASAN PANTURA P. MADURA PADA MASA PRASEJARAH – PROTOSEJARAH

Isi Artikel Utama

Gunadi Kasnowihardjo

Abstrak

Terinspirasi oleh teori “Out of Taiwan” atau “Express Train Hypothesis”, bahwa imigran penutur bahasa Austronesia mencapai Pulau Jawa kira-kira 500 BC. Melacak jejak budaya Austronesia di kawasan pantai utara Pulau Madura ini adalah penelitian lanjutan dari tema penelitian “Melacak Jejak – Jejak Budaya Austronesia di Kawasan Pantai Utara Jawa”. Dalam pelacakan jejak budaya Austronesia digunakan tiga kajian yaitu Geomorfologi, Arkeologi, dan Etnografi yang dilakukan dengan kegiatan lapangan yaitu survey dan ekskavasi. Sedangkan kegiatan pasca lapangan antara lain analisis laboratorium yang hasilnya sebagai data pendukung dalam interpretasi.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Kasnowihardjo, G. . (2020). MELACAK JEJAK BUDAYA AUSTRONESIA DI KAWASAN PANTURA P. MADURA PADA MASA PRASEJARAH – PROTOSEJARAH . Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 19-29. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.3
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Bellwood, Peter; Fox, James J, and Tryon, Darell. 2006. The Austronesians, Historical and Comparative Perspectives, The Australian University, E-PRESS.

Binford, Lewis R. 1972. An Archaeological Perspectives, Seminar Press, New York and London.

Cole, Sonia, 1970. The Neolithic Revolution, Trustees of the British Museum London, Fifth Edition, Printed in England by Staples Printers Limited.

Gunadi, Dkk. 2012. “Penelitian Situs Kubur Prasejarah di Pantai Utara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah”, Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Yogyakarta (Belum diterbitkan).

Morse, H. Ballou. 1908. The Trade And Administration Of The Chinese Empire, Longmans, Green, and Co, New York, Bombay, and Calcutta.

Sutaarga, M. Amir, 1963. “Tjiri2 Antropologi Fisik Dari Penduduk Pribumi”, dalam Koentjaraningrat dan Harsya W. Bachtiar: Penduduk Irian Barat, Projek Penelitian Universitas Indonesia, PT. Penerbitan Universitas.

Tanudirdjo, Daud A. dan Prasetyo, Bagyo. 2004. “Model Out of Taiwan Dalam Perspektif Arkeologi Indonesia”, Polemik Tentang Masyarakat Austronesia Fakta atau Fiksi? Prosiding Kongres Ilmu Pengetahuan VIII, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Hal. 78 – 103.

Valientes, Edwin A. 2019. The Archaeology and Meaning of the Boat-shaped Stone Markers in Vuhus Island, Batanes Province, Northern Philippines, Hukay, Volume 21, pp. 1 – 25.

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Dr. Lutfi Yondri, M.Hum. (Balai Arkeologi Jawa Barat)

Apakah masih cocok untuk menggunakan etimologi “megalitik” bila melihat kondisi di lapangan saat penelitian?

Ary Sulistyo (TACB Kota Depok)

Apakah teknologi nelayan tradisional di Madura tersebut masih berkaitan dengan tradisi Austronesia yang 70% maritim?

Jawaban

Nomenklatur megalitik mungkin karena sebelumnya telah ada istilah paleolitik, mesolitik, dan neolitik. Pada awalnya di Eropa dan menyebar ke wilayah Asia, ditemukan monumen yang menggunakan batu-batu besar sehingga disebut megalitik. Dalam perjalanan migrasinya para pendukung tradisi megalitik tidak selalu menemukan batu yang berukuran besar sedangkan kegiatan ritual harus dilakukan. Sebagai penggantinya mereka menggunakan material yang ditemukan di lingkungannya. Seperti di Kalimantan dan Papua, patung nenek moyang dibuat dari kayu. Sedangkan menhir-menhir di Situs Bori’ Parinding, Toraja masih cocok disebut tradisi megalitik, namun untuk wilayah lain yang tidak mengenal batu besar seperti di Kalimantan, harus dicari istilah lain. Pada prinsipnya saya setuju dengan gagasan Dr. Luthfi Yondri, MHum., dan saya mengusulkan “tradisi pemujaan ruh leluhur” yang oleh para ahli sering disebut “ancestor worship”. Yaitu kebiasaan memuliakan leluhur yang sudah meninggal yang dianggap masih menjadi bagian dari keluarga dan yang arwahnya diyakini memiliki kekuatan untuk campur tangan dalam urusan hidup. Secara universal tradisi ini ditemukan hampir dipenjuru dunia, setidaknya ada 12 tipe yang salah satu di antaranya yaitu tradisi megalitik (https://www.joincake. com/blog/ancestor-worship/).

Nelayan tradisional di Madura masih berkaitan dengan Austronesia. Apabila kita bandingkan dengan nelayan tradisional di tempat lain seperti di pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya pada nelayan tradisional pencari udang rebon atau udang acan, mereka memiliki keunikan yaitu menggunakan alat yang disebut angle (daerah Plawangan), angkle (Tuban), dan Tanjek (Sumenep). Udang rebon atau udang acan oleh para wanita biasanya isteri nelayan diproses dijadikan terasi salah satu bumbu masak (Shrimp paste atau Prawn sauce). Terasi sebagai bumbu masak dikenal di Asia Tenggara dan daratan China bagian selatan. Oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa nelayan tradisional pencari udang rebon atau udang acan yang ditemukan di kawasan pantura Madura dan pantura Jawa lainnya adalah sisa-sisa teknologi imigran Austronesia.