KEPEMIMPINAN, KEKUASAAN, DAN ORGANISASI MASA LAMPAU BERDASARKAN SUMBER TERTULIS

Isi Artikel Utama

Djoko Dwiyanto

Abstrak

Pengkajian tentang nilai kepemimpinan tidak hanya bersandar pada artefak-artefak, tetapi juga didukung oleh naskah-naskah kesastraan, terutama yang berisi filosofi nilai dan ajaran kepemimpinan.    Kepemimpinan   Jawa-Islam   misalnya,  jika   kemudian   difokuskan seperti itu, dapat    dihubungkan dengan konteks sosial dan politik serta kedudukan  dan  perannya dalam  masyarakat  tradisional. Dimensi-dimensi kepemimpinan yang dapat diamati antara lain terdiri atas status dan peranan, kekuasaan, pengaruh dan otoritas, personalitas, fungsi, nilai-nilai sosio-kultural dan situasi. Adapun faktor yang mempengaruhi kepemimpinan itu adalah (1) kepribadian; (2) sifat-sifat golongannya; dan (3) situasi atau kejadian. Jika dikaji secara mendalam ketiga faktor itu bersifat multidimensional dalam sebuah kepemimpinan, yaitu meliputi aspek sosial-psikologis, sosiologis- antropologis, dan sosial-historis. Salah satu karya sastra yang berisi ajaran dan nilai-nilai kepemimpinan adalah Serat Jatipusaka Makutharaja, yang mengidolakan kemuliaan hati seorang raja yang memimpin kerajaan dengn Raja Yudhistira.  Adapun  sifat-sifat itu,   antara   lain,   adalah   tidak   boleh melupakan bukari samsi narendra (asal usul perputaran leluhur raja), sukahar rêtna adi murti (wujud kehendak mulia dari leluhur), dan mengalir bagaikan aliran air sungai. Raja yang baik harus memiliki hati yang awas terhadap tajali atau penampakan Allah dalam sifat-sifatnya yang menyatu dalam kalbunya sehingga dapat memimpin secara benar, bersih, dan adil. Raja hendaknya selalu gembira dalam mencari nafkah untuk hidup, dibiasakan sebagai manggala yuda sesuai dengan pranata yang sudah jelas dan  baku,  terdiri  atas  manggala yuda,   patih,   jaksa,   dan   pengulu.   Raja selalu berusaha untuk meningkatkan pemahaman, berlatih, dan berikhtiar memahami ajaran, percaya pada ilmu nyata, semuanya disimpan dan diendapkan  dalam  yin  atau  kalbunya.  Apabila  bertindak  sebaliknya,  sikap  itu  diandaikan sebagai arpajala wêni nrus buwana atau air hujan yang meresap terus ke dalam tanah. Nilai-nilai kepemimpinan ketika seorang pemimpin harus melakukan sesuatu  yang  jauh  dari  sifat-sifat tercela,  seperti  tidak  konsisten,  tidak dapat dipercaya, bermuka dua, dan lain-lain. Sifat-sifat tercela yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan menjauhkan kewibawaan, ketauladanan, dan sebagai panutan bagi bawahan. Ajaran kepribadian seorang pemimpin sebagaimana yang dinasihatkan di dalam Serat Wulangreh  memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, sebagai berikut : (1) pemimpin harus memahami halal dan haram; (2) pemimpin harus bersikap sederhana; (3) pemimpin harus loyal kepada negara; (4) pemimpin  tidak  berwatak  pedagang; dan  (5)  pemimpin  harus  rendah  hati dan adil. Serat Jatipusaka Makutharaja yang dijadikan acuan dalam studi ini secara khusus diteliti dari aspek nilai-nilai kepemimpinan, terutama nilai- nilai budaya Jawa yang telah terpengaruh kuat oleh ajaran Islam. Kajian nilai kepemimpinan yang yang diekspresikan melalui artefak dan naskah ini dapat disebut sebagai model kepemimpinan Jawa-Islam. Di dalam ajaran Islam, jika akan menjalankan kepemimpinan, seseorang diharuskan mengikuti jejak (i’tiba’) Rasul yang memiliki sikap dasar jujur (shiddiq), menyampaikan yang benar (tabligh), menjalankan sesuatu sesuai dengan pesan, norma, aturan, dan bertanggung jawab (amanah), serta cerdas (fathanah). Demikian pentingnya amanah dalam kepemimpinan sehingga digambarkan bahwa seorang pemimpin yang berkhianat, termasuk yang memimpin tidak sesuai dengan keahliannya, tinggal menunggu kiamat.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Dwiyanto, D. . (2019). KEPEMIMPINAN, KEKUASAAN, DAN ORGANISASI MASA LAMPAU BERDASARKAN SUMBER TERTULIS . Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 2(1), 1-24. https://doi.org/10.24164/prosiding18/02
Bagian
Artikel

Referensi

Bakker, Anton dan Achmad Charis Zubair. (1994) Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius,.

Benton, William. (1973). Encyclopedia Britanica, London: Oxford UniversityPress.

Boechari, M. (1976). Some Consideration of the Problem of the Shift of Mataram’s Center of Government from Central to East Java in the 10th century A.D.”, Bulletin of the Research Centre of Archaeology on Indonesia No. 10, Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Boechari, M. ( 1980). Bahan Kajian Arkeologi untuk Pengajaran Sejarah, Majalah Arkeologi,

Jakarta: Universitas Indonesia,Vol. I., hlm. 1 -12. Drijarkara. (1978). Percikan Filsafat, Jakarta: Pembangunan.

Dwiyanto. (2008). Pengkajian Naskah Makutharaja Koleksi Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta. Yogyakarta: UPTD Museum Negeri Sonobudoyo, Dinas Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Fudyartanta. (1974). Etika Intisari Filsafat Kesusilaan dan Moral. Yogyakarta: Warawidyani. Hadi, Pardi dan Nasyith Majidi. (2013). Hamengku Buwono IX. Inspiring Prophetic Leader.

Memimpin dengan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual. Jakarta: Ikatan Relawan Sosial

Indonesia (IRSI).

Hamengkubuwono X. (2009). The New Era of Korea-Indonesia Relationship, Seoul: Innauguration Speech The Grantig of Honoris Causa Doctor in Politics from Hankuk University of Foreign Studies.

Haryanto, S. (1992). Pratiwimba Adiluhung Sejarah dan Perkembangan Wayang. Jakarta: Djambatan.

Harsono, Andi. (2005). Tafsir Ajaran Serat Wulangreh. Yogyakarta: Pura Pustaka. Jatmiko, Adityo. (2005). Tafsir Ajaran Serat Wedhatama. Yogyakarta: Pura Pustaka. Kartodirdjo, A. Sartono. (1990). Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, cetakan Ketiga, Juli

, Jakarta: LP3ES

Kurniawan. (2013). Ajaran Pekerti dalam Teks Jawa Klasik. Yogyakarta: Media Abadi.

Laranta, Muhammad Areya. ( 2013) Sifat-Sifat Nabi. Pembuka Sukses Hidup Dunia Akhirat, Yogyakarta: Diva Press.

Lindsay, Jennifer., R.M. Soetanto, Alan Feinstein. (1994). Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara, jilid 2 (Kraton Yogyakarta), Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Magetsari, Nurhadi. ( 1993). Pemujaan Tathagata pada abad kesembilan. Disertasi, Jakarta: Universitas Indonesia.

Marsono, dalam Djoko Dwiyanto. (2004). Sastra Kasultanan Yogyakarta, Harijadi Kota

Yogyakarta, Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta.

Mifedwil dan Tashadi, ed. (2006). Filsafat dan Ajaran Hidup dalam Khasanah Budaya Keraton

Yogyakarta, Yogyakarta: Penerbit YKII – UIN Sunan Kalijaga.

Moeljono, Djokosantoso. (2004). Cultured: Budaya Organisasi dalam Tantangan, dikutip dari

Culture Matters: How values Shape Human Progress, (unpublished).

-------------. (2004), Cultured, Jakarta: Elex Media Komputindo.

-------------. (2004). Beyond Leadership: 12 Konsep Kepemimpinan. Jakarta: Elex Media

Komputindo.

Mudhofir, Ali. (1988). Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat. Yogyakarta: Liberty.

Nurhayati, Endang (2006) Filsafah dan Ajaran Hidup dalam Khasanah Budaya Keraton Yogyakarta, Editor: Mifedwil dan Tashadi, Yogyakarta: Penerbit YKII dan UIN Sunan Kalijaga.

Parimin, Ardi P. (1986). Fundamental Study on Spatial Formation of Islan Village: Environmental

Hierarchiy of Sacred-Profane Concept in Bali. Disertasi, Kyoto: Osaka University. Poerbatjaraka. (1952). Riwayat Indonesia, jilid I, Jakarta: Penerbit Djambatan.

-------------. (1957). Kapustakan Jawi. Djakarta: Djambatan.

Ranggawarsita, R. Ng. (1980), Serat Kalatidha, alihaksara Kamajaya. Yogyakarta: Yayasan

Centhini.

-------------. (1995). A History of Modern Indonesia. London: Macmillan Education Ltd., terjemahan oleh Dharmono Hardjowijono, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cetakan kelima.

Schrieke, B.J.O. ( 1957). Indonesian Sociological Studies, part two, Ruler and Realm in Early

Java, Bandung: W. Van Hoeve Ltd.

Setiadi, Bram. (2013). Bangsawan di Zaman Modern. Surakarta: Etnika Pustaka.

Soejono, R.P. ed. dkk. ( 1992). Sejarah Nasional Indonesia, jilid I, Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.