KONSEP KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI YANG TERCERMIN PADA ARSITEKTUR BANGUNAN

Isi Artikel Utama

Sutrisno Murtiyoso

Abstrak

Perbedaan martabat dan jenjang kemasyarakatan pada manusia sebagai mahluk sosial yang paling kompleks dicerminkan oleh tampilan anggota jenjang masing-masing. Dalam tataran ruangan binaan, maka arsitektur menjadi perwujudan cermin diri itu. Penampilan ini memberikan gambaran melalui sistem perlambangan yang berlaku, selain juga mematuhi tatanan arsitektur


pendukungnya.


Tatanan arsitektur itu meliputi penempatan bangunan pada titik-titik tertentu yang memberikan penonjolan, kemudian susunan bangunan atau bagian-bagiannya yang mengikuti aturan atau ke- biasaan tertentu. Selain itu ada arah hadapan bangunan tunduk kepada tradisi atau kepercayaan, dan terakhir adalah bangun atau sosok bangunan yang digunakan, biasanya hanya boleh atau bisa digunakan oleh golongan tersebut.


Tulisan ini dibatasi pada wilayah Indonesia saja, karena batasan geografisnya jelas, pola kema- syarakatan dan kebudayaannya nisbah sama, serta lebih dari itu, mengalami perkembangan seja- rah yang serupa. Tatamasa dibedakan berdasarkan perkembangan wujud politik dan kenegaraan.


 


 


 


Paras paling awal adalah masyarakat petani awal, yaitu paras desa (wanua) dan watek (kawasan), ketika lebih berkembang menjadi mandala yang berlandaskan perniagaan, serta kemudian men- jadi negara dengan raja yang lebih rumit lagi tatanannya. Kurun modern diwakili dengan negara jajahan dibawah seorang Gubernur Jenderal, kemudian pertengahan abad ke-20 lahir sebagai Republik ketika kekuasaan ada di tangan rakyat dan dijalankan oleh DPR/MPR serta Presiden.


Nyata bahwa gambaran kekuasaan memang pada sistem perlambangan  yang mampu mencermink- an kekuasaan melalui citra yang telah dikenal melalui perjalanan sejarah masyarakatnya. Arsitektur mendukung melalui pewujudan kemegahan, ukuran yang besar dan tampilan keagungan.


 


 

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Murtiyoso, S. . (2019). KONSEP KEKUASAAN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI YANG TERCERMIN PADA ARSITEKTUR BANGUNAN. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 2(1), 51-64. https://doi.org/10.24164/prosiding18/05
Bagian
Artikel

Referensi

nn. (2012). Forts in Indonesia, Ministry of Education and Culture, Jakarta.

Adry Padma dkk. (2001). Kampung Naga Permukiman Warisan Karuhun, Foris, Bandung.

Anderson, Benedict O’ Gorman (1972) The Idea of Power in Javanese Culture, dalam C. Holt, B.

R. O’G Anderson dan J. Siegel (penyunting) Culture and Politics in Indonesia. Cornell

University Press

Bambang Susetyarto, Martinus.(2013). Arsitektur Vernakular Keberlanjutan Budaya di Kampung

Bena Flores, Padepokan Seni Djayabinangun, Sukoharjo.

Behrend, Timothy 'Kraton and Cosmos in Traditional Java' dalam Archipel 37 1989 hal. 173-187

Bougas, Wayne A. (1998). Bantayan: An Early Makassarese Kingdom, 1200-1600 A.D dalam

Archipel 55-1998 hal.83-123.

Christie, Jan Wisseman.(1989). “Raja dan Rama: Negara Klasik di Jawa Masa Awal”, dalam Lorraine Gesick (ed). Pusat, Simbol dan Hirarki Kekuasaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Christie, J. Wisseman.(1995). State Formation in Early Maritime Southeast Asia; A Consideration of the Theories and the Data, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 151. (1995). no: 2, Leiden, 235-288

Fukuyama, Francis. (2011), The Origins of Political Order. Farrar, Straus and Giroux, New York Heuken, Adolf.(2007). Historical Sites of Jakarta Seventh Edition, Cipta Loka Caraka, Jakarta. Koentjaraningrat.(1980). Javanese Terms for God and Supernatural Beings and the Idea of Power, dalam R.

Schefold, J.W. Schoorl dan J. Tennekes (penyunting) Man, Meaning and History, Essays in honour

of H. G. Schulte Nordholt. Martinus Nijhoff.

Kulke, Hermann. (1991). Epigraphical References to the “City” and the “State” in Early Indonesia, dalam

Indonesia 52 - 1991. hal. 3-22

Lohanda, Mona 'Sistem Pemerintahan Hindia Belanda' dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian

(editor). Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 5, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta 2012 hal

-61

Moedjanto, G. (1987). Konsep Kekuasaan Jawa. Kanisius, Yogyakarta. hal. 112

Moertono, Soemarsaid Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX, KPG, Jakarta, 2018

Munoz, Paul Michel. (2016). Early Kingdoms, Indonesian Archipelago & the Malay Peninsula.

Editions Didier Millet, Singapura.

Nolan, Patrick; Lenski, Gerhard. (2004), Human Societies, An Introduction to Macrosociology, Ninth Edition. Paradigm Publisher, Boulder, CO.

Perret, Daniel. 'Konsep "negeri" dalam sumber Melayu lama berunsur sejarah dan hukum' dalam

Wan Hashim Wan Teh, dan Daniel Perret, Di Sekitar Konsep Negeri, Kuala Lumpur,

Situmorang, Sitor. (2009). Toba Na Sae. Sejarah Lembaga Politik Abad XVIII-XX, Komunitas

Bambu, Jakarta.

Suhartono 'Dampak Politik Hindia Belanda (1800-1830)' dalam Taufik Abdullah dan A.B. Lapian

(editor) Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 4, Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta 2012 hal

-171

Viaro, Alain M. dan Ziegler, Arlette. (2006). Traditional Architecture of Nias Island, Yayasan

Pusaka Nias, Gunungsitoli.

Wolters, O. W. (1982). History, Culture, and Region in Southeast Asian Perspectives, ISEAS, Singapura.