GAMBAR CADAS KAIMANA (PAPUA BARAT) DAN KAITANNYA DENGAN AUSTRONESIAN PAINTED TRADITION (APT)

Isi Artikel Utama

R. Cecep Eka Permana

Abstrak

Artikel ini membahas tentang gambar cadas yang terdapat di Kampung Maimai dan sekitarnya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Motif-motif gambar cadas di wilayah ini mengikuti konsep dari Ballard dan O’Connor berkaitan dengan Penutur Austronesia yang dikenal dengan Austronesian Painted Tradition (APT). Pengumpulan data gambar cadas dilakukan melalui survei di lapangan, sedangkan analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikasi kebudayaan dari Penutur Austronesia pada gambar cadas yang terdapat di Kaimana. Indikasi tersebut antara lain ditunjukkan oleh lokasi yang berada di wilayah persebaran Penutur Austronesia, keletakkan gambar cadas pada lokasi yang sulit dijangkau, serta penggambaran motif khas seperti cap telapak tangan, antropomorfik, wajah atau topeng, matahari, dan perahu.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Eka Permana, R. C. (2020). GAMBAR CADAS KAIMANA (PAPUA BARAT) DAN KAITANNYA DENGAN AUSTRONESIAN PAINTED TRADITION (APT). Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 31-41. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.4
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, K. (1992). Lukisan Batu Karang di Indonesia: Suatu Evaluasi Hasil Penelitian. Laporan Penelitian. Depok: Lembaga Penelitian UI.

Arifin, K. & Delanghe, P. (2004). Rock art in West Papua. Unesco Publishing.

Adhityatama, Sh. (2017). Silang Budaya: Kebinekaan di Pulau Misool, Papua Barat. https://www.researchgate.net/publication/321902952

Balai Arkeologi Papua (2013). Laporan Penelitian Gambar Cadas Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Jayapura.

Ballard, C. (1992). “Painted rock art sites in western Melanesia: Location evidence for an ‘Austronesian’ tradition”, dalam J. McDonald & I. Haskovec (Eds.), State of the art: Regional rock art studies in Australia and Melanesia (Occasional AURA Publication 6) (hlm. 94-106). Melbourne: Australian Rock Art Research Association.

Bellwood, P. (1985). “A hypothesis for Austronesian orgins”. Asian Perspectives, 26(1), 107-117.

Bellwood, P. (2002). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT. Gramedia.

Deda. AJ. & Mofu, S. (2014). “Masyarakat Hukum Adat dan Hak Ulayat di Provinsi Papua Barat Sebagai Orang Asli Papua Ditinjau Dari Sisi Adat dan Budaya: Sebuah Kajian Etnografi Kekinian”, Jurnal Administrasi Publik. Volume 11 (2): 11-21

Nasruddin (2015). “Membaca dan Menafsirkan Temuan Gambar Prasejarah di Pulau Misool, Rakja Ampat, Papua Barat”, dalam Sangkhala Vol. 18. No. 2: 150-168.

O’Connor, S., Aplin, K., St Pierre, E., & Feng, Y.-x. (2010). “Faces of the ancestors revealed: Discovery and dating of a Pleistocene-age Petroglyph in Lene Hara Cave, East Timor”. Antiquity, 84(325), 649-665.

O'Connor, S., Louys, J., Shimona, K., & Shimona, M. (2015). “First record of painted rock art near Kupang, West Timor, Indonesia, and the origins and distribution of the Austronesian painting tradition”. Rock Art Research, 23(2), 193-201.

Permana, R.C. (2014). Gambar Tangan Gua-Gua Prasejarah Pangkep-Maros-Sulawesi Selatan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra

Simanjuntak, T. (2015). “Progres penelitian Austronesia Di Indonesia”. Amerta, 33(1), 25-44.

Setiawan, P. (2015). “Pendahuluan”. Dalam R. C. E. Permana (Ed.), Gambar cadas prasejarah di Indonesia (pp. 1-71). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

Suroto, H. (2011). “Budaya Austronesia di Papua”. Dalam M. I. Mahmud & E. N. I. Djami (Eds.), Austronesia dan Melanesia di Nusantara (hlm. 95-106). Jakarta: Penerbit Ombak.

Tanudirjo, D. A., & Simanjuntak, T. (2004). “Indonesia di tengah debat asal usul masyarakat Austronesia”. Dalam E. K. M. Masinambouw, D. A. Tanudirjo, H. T. Simanjuntak, T. Jacob, I. Y. Fernandez, H. Widianto, & B. Prasetyo (Eds.), Polemik tentang masyarakat Austronesia: Fakta atau Fiksi? (hlm. 11-32). Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Whitley, D.S. (2016). Introduction to Rock Art Research. Second Edition. London & New York: Routledge.

Wright, D. & Denham, T. (2013). “An Archaeological Review of Western New Guine”, dalam Journal of World Prehistory 26: 25-73.

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Eko Punto Hendro (Universitas Diponegoro Semarang)

Apakah ada percampuran antara Austronesia dan Austromelanesid? Bagaimana perbedaannya secara budaya dan fisik? Apakah budaya kapak persegi merupakan budaya Austronesia, sementara kapak lonjong merupakan budaya Austromelanesid?

Drs. Nanang Saptono, M.I.L. (Balai Arkeologi Jawa Barat)

Terkait kata sheman, sama, dan semano yang dikaitkan dengan perahu bercadik. Apakah selama ini kata tersebut menjadi petunjuk suatu daerah? Menurut teks-teks lama di Indramayu ada sebutan kata semano, dan terdapat daerah di Indramayu di mana masyarakatnya sangat pandai membuat perahu. Apakah ada kaitan antara seman, shaman, semano, Cimanuk, dan Indramayu?

Budianto Hakim (Balai Arkeologi Sulawesi Selatan)

Terkait motif lukisan yang telah dijelaskan diperkirakan merupakan motif produk Austronesia. Di banyak gua di Maluku, ditemukan juga motif-motif APT, seperti gambar binatang dan perahu. Banyak lukisan gua di daerah lain yang luput dari penelitian.

Jawaban

Secara fisik, melihat masyarakat di Indonesia bagian tengah seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku sudah terlihat gradasi peralihan ras, terutama sangat terlihat di wilayah Maluku dan Papua Barat. Secara budaya juga banyak campuran yang terjadi. Misalkan pada makanan sekarang, wilayah Indonesia bagian barat banyak menggunakan rempah-rempah seperti santan dalam pengolahan makanan, namun makin ke timur, walaupun banyak tumbuh pohon kelapa tapi tidak ada makanan yang menggunakan santan. Di wilayah timur lebih banyak mengolah makanan dengan cara dibakar dan hanya diberi garam sedikit. Di wilayah barat juga banyak makanan-makanan yang diawetkan, sementara makin ke timur makin berkurang makanan yang diawetkan. Umumnya setelah mengambil bahan makanan kemudian diolah dan langsung dimakan. Alat batu juga ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Kapak lonjong juga ditemukan di wilayah timur. Tradisi tersebut meluas, seperti kapak lonjong yang masih digunakan di Papua. Kapak lonjong di wilayah lain juga ada namun tidak sebanyak yang ada di wilayah timur. Untuk beliung banyak ditemukan di wilayah barat, sementara makin ke timur makin sedikit.

Penelitian yang dilakukan mengenai jejak budaya maritim. Melihat gambar-gambar cadas yang berkaitan dengan kehidupan maritim seperti perahu dan ikan, serta meneliti secara etnografi yang ada sampai sekarang. Di wilayah Misool, perahu bercadik disebut dengan semang. Penyebutan perahu tersebut memang banyak dipengaruhi oleh kata-kata dari wilayah Maluku. Kata semang dalam kamus bahasa Austronesia, lahir di sekitar Pulau Kei, Maluku. Hasil wawancara dengan penduduk sekitar Misool memang banyak orang yang berasal dari wilayah Maluku. Di Kaimana, bentuk perahu bercadik yang memiliki rumah atau atap di atasnya disebut kajang, seperti juga di Sumatera Selatan.

Dari penyebutan tersebut menunjukkan bahwa kata-kata tersebut merupakan satu tuturan. Di wilayah lain mungkin ada variasi penyebutan yang berbeda. Penyebutan semang dan kajang khusus untuk perahu lesung (kano) saja, yang merupakan salah satu tradisi Austronesia, bukan untuk perahu papan. Perahu cadik di Maros-Pangkep dan Muna umumnya bercadik satu, meskipun terdapat gambar cadas yang bermotif perahu lesung bercadik dan memiliki rumah seperti semang dan kajang yang berasal dari Misool dan Kaimana. Berdasarkan Pak Truman yang mengatakan bahwa migrasi Austronesia turun dari utara ke Sulawesi kemudian turun ke bawah, maka kemunculan motif perahu tersebut sangat wajar.

Sebenarnya data-data tersebut bukan terlewat, namun karena bukan topik yang sedang dibicarakan. Terdapat bentuk-bentuk gambar yang dianggap muda, yang sama dengan yang berada di wilayah Misool, Fakfak, Kokas, dan Kaimana dengan rentang usia 5000 – 1000 tahun yang lalu, terutama untuk gambar-gambar yang berwarna hitam dan merah. Gambar-gambar tersebut banyak menggunakan bentuk manusia, binatang, geometris, atau abstrak. Ada juga bentuk cap tangan yang dicurigai menjadi gambar yang tertua dan bentuk-bentuk sederhana lainnya. Jika dibandingkan, gambar tangan yang berada di Papua Barat (Kokas dan Misool) umumnya normal (ukuran tangan yang besar), sementara di Sulawesi Selatan memiliki gambar tangan yang halus atau bagus. Normal tersebut dikaitkan dengan manusia yang masih menjalankan tradisi berburu dan meramu, seperti di Kokas, Fakfak, Misool, dan Kaimana yang manusianya memiliki tangan-tangan yang kekar. Penelitian gambar tangan di wilayah tersebut dilakukan dengan membandingkan gambar tangan pada gua dengan tangan-tangan asli penduduk sekitar.

Untuk di wilayah Sulawesi Selatan, secara etnografi masih ada tradisi untuk membuat cap tangan di rumah tradisional, yaitu tradisi rumah bedabola atau upacara rumah baru. Dalam pelaksanaan upacara, sebagian besar dilakukan oleh perempuan, khususnya yang membuat cap tangan tersebut. Cap yang digambarkan merupakan cap positif menggunakan warna putih. Hal tersebut karena rumah baru dibuat oleh laki-laki untuk perempuan. Cap tangan dibuat oleh istri atau anggota keluarga lain yang belum haid karena hal tersebut dianggap kesucian sebagai penolak bala sehingga harus dilakukan oleh perempuan yang masih suci. Terdapat pula laki-laki (dukun pemimpin upacara) yang juga membuat cap tangan pada rumah baru di wilayah lain, seperti Maros-Pangkep, Baru, dan Bone. Penelitian di Eropa juga menunjukkan cap-cap tangan yang ada di Prancis, Eropa, dibuat oleh perempuan.