KEKUASAAN MASA KOLONIAL DI NUSANTARA: CONTOH KASUS KOTA SUMEDANG

Isi Artikel Utama

Octaviadi Abrianto

Abstrak

Kekuasaan adalah sesuatu yang telah ada sejak manusia mengenal kebudayaan, dengan kekuasan seseorang atau sekelompok orang dapat mengendalikan dan mengatur keadaan


agar sesuai dengan keinginan mereka. Terdapat banyak bentuk kekuasaan, baik fisik maupun psikis. Begitu juga dengan bentuk kekuasaan, salah satunya adalah kekuasaan yang ditunjukkan dengan suatu bangunan. Bagaimana bentuk kekuasaan berupa bangunan yang ada pada masa kolonial di Indonesia, terutama yang ada di Kota Sumedang? Naskah ini bertujuan untuk menunjukkan  beberapa  bentuk  kekuasaan  berupa  bangunan  yang  ada  di  Kota  Sumedang dari masa Kolonial Belanda. Bangunan-bangunan kekuasaan yang ada di Sumedang berupa bangunan pemerintahan dan bangunan pertahanan, baik yang dibuat oleh penguasa lokal atau bangsa Belanda. Baik penguasa lokal maupun colonial menggunakan bangunan sebagai salah satu cara untuk menunjukkan kekuasaannya di masyarakat. Bangunan tersebut berupa bangunan pemeriangahan dan bangunan pertahanan.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Abrianto, O. . (2019). KEKUASAAN MASA KOLONIAL DI NUSANTARA: CONTOH KASUS KOTA SUMEDANG. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 2(1), 123-131. https://doi.org/10.24164/prosiding18/10
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Abrianto, O. (2008). LHPA Bangunan Pertahanan Masa Kolonial di Kabupaten Sumedang.

Bandung.

Boedi, O. B. (2005). LHPA Perkembangan Kota-Kota Pusat Pemerintahan dan Arsitektur di

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Bandung.

French, J. (1959). The Bases of Social Power. In D. Cartwright (Ed.), Studies in Social Power (pp.

–167). Ann Arbor: MI: Institute for Social Research.

Heine Geldern, R. von. (1945). Prehistoric Research in Netherlands Indies. In Science and

Scientist in the Netherlands Indies (pp. 129–167).

Jacob, T. (1969). Kesehatan di Kalangan Manusia Purba. Berkala Ilmu Kedokteran Gajah Mada,

(2), 143–157.

Lubis, N. (2000). Sejarah Kota-Kota Lama di Jwa Barat. Bandung: Alqa Print.

Russel, B. (2004). Power, A New Social Analysis. London, New York: Routledge Classics. Setiawan, E. (2019). Kamus Besar bahasa Indonesia. Retrieved from KBBI Online website:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/ceruk. Diakses 16/9/2019. 10:45

Soltau, R. H. (1952). An Introduction to Politics. London: Longman Green.

Srabstain, J. C. (2010). Prevention of Bulliying-Related Morbidity and Mortality: a Call for Public

Health Policies. Bulletin of World Health Organization, 88(6), 401–480.

Sumedang, P. (2018a). Pemerintah Kabupaten Sumedang. Retrieved September 6, 2018, from

geografi website: https://sumedangkab.go.id/

Sumedang, P. (2018b). Pemerintah Kabupaten Sumedang. Retrieved September 6, 2018, from raja dan bupeti sumedang website: https://sumedangkab.go.id/

Sumedang, P. (2018c). Pemerintah Kabupaten Sumedfang. Retrieved September 6, 2018, from

profil website: https://sumedangkab.go.id/

Suryaman. (1996). Mengenal Museum Prabu Geusan Ulun serta Riwayat Leluhur Sumedang.

Sumedang: Museum Geusan Ulun.

h HASIL DISKUSI

• Sutrisno Murtiyoso (LSAI)

Pertanyaan:

- Mengapa di depan berbicara tentang kuasa tetapi di belakang menjadi pelestarian?

Jawaban:

- Kekuasaan dalam bentuk bangunan di Sumedang masih cukup banyak, namun dengan pesatnya pembangunan yang sedang berlangsung dikhawatirkan bangunan- bangunan tersebut akan hilang atau rusak. Oleh karena itu pelestarian juga tidak dapat dilepaskan bila kita bicarakan tinggalan kekuasaan yang ada.