LEGITIMASI SUKSESI KEKUASAAN YANG TERCERMIN PADA ARSITEKTUR KOMPLEKS KADIPATEN DI KRATON YOGYAKARTA

Isi Artikel Utama

Abstrak

Dalem atau tempat tinggal kaum bangsawan merupakan salah satu sub-kompleks di dalam lingkungan keraton. Salah satu di antara dalem tersebut adalah kadipaten yang merupakan kompleks hunian pangeran adipati anom atau putra mahkota. Kompleks Kadipaten di kawasan Kraton Yogyakarta pertama kali dibangun pada masa Hamengku Buwono I. Catatan sejarah, naskah kuno kesultanan, peta lama, tinggalan arkeologis, hingga toponim menunjukkan bahwa Kadipaten tersebut berada di wilayah sebelah timur keraton yang saat ini dikenal sebagai Kampung Panembahan. Pada tahun 2017, telah dilakukan upaya rekonstruksi arsitektur kompleks Kadipaten ini dengan menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan. Pada tulisan kali ini, pembahasan dititikberatkan  pada legitimasi  suksesi  kekuasaan  yang  tercermin  pada  arsitektur  kompleks Kadipaten, baik pada tata ruang, kelengkapan komponen, hingga fungsi tiap-tiap komponennya.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
LEGITIMASI SUKSESI KEKUASAAN YANG TERCERMIN PADA ARSITEKTUR KOMPLEKS KADIPATEN DI KRATON YOGYAKARTA. (2019). Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 2(1), 167-173. https://doi.org/10.24164/prosiding18/14
Bagian
Artikel

Referensi

Adam, L. (2003). The Courtyards, Gates, and Building of the Kraton of Yogyakarta. Dalam S.

Robson (ed.), The Kraton: Selected Essays on Javanese Courts, Translation series 28. hal. 13-40. Leiden: KITLV Press.

Dwiyanto, D. (2018). Refleksi Penelitian Epigrafi dan Prospek Pengembangannya. Yogyakarta: Kepel Press.

Errington, J. (1982). Speech in the Royal Presence: Javanese Palace Language. INDONESIA, No.

(Oct. 1982), hal. 89-101, http://www.jstor.org/stable/3350951.

Galloway, P. (2006). “Material Culture and Text: Exploring the Spaces Within and Between”dalam H. Martin, dan S. W. Silliman (eds.), Historical Archaeology. hal. 42-64. Oxford: Blackwell Publishing, Ltd.

Babad Mentawis Jilid 3 terjemahan Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta tahun 1979 serta naskah doku- menter yang termuat dalam buku “Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1768-1874” karangan S. Margana (lih. Retnaningtiyas, 2017: 44-45).

Houben, V. (2002). Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta 1830-1870. Edisi terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Ikaputra. (1995). A Study on the Contemporary Utilization of the Javanese Urban Heritage and its Effect on Historicity: An Attempt to Introduce the Contextual Adaptability Into the Preservation of Historic Environment of Yogyakarta. Dissertation. Osaka: The Course of Enviromental Engineering, Graduate School of Engineering, Osaka University.

Knaap, G. (1999). Cephas, Yogyakarta: Photography in the service of the Sultan. Leiden: KITLV Press.

Marlina, E., dan A. Ronald. (2011).”Ekspresi Budaya Membangun Pada Masyaraka Jeron

Benteng, Kecamatan Kraton, Yogyakarta”. Humaniora,Vol. 23, No. 2 (Juni 2011), hal.

-165.

Mildawani, I. (1999). “Kajian Sistem Penataan Lansekap Halaman Dalem Pangeran: Studi Kasus di Yogyakarta”. Tesis. Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Retnaningtiyas, W. (2017). Rekonstruksi Arsitektur Kompleks Kadipaten di Kampung Panembahan Kecamatan Kraton Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Ronald, A. (1997). Ciri-ciri Karya Budaya di Balik Tabir Keagungan Rumah Jawa. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya.

Santosa, R. B. (1997). Omah: The Construction of Meanings in Javanese Domestic Settings.

Master Thesis. Montreal: School of Architecture, Faculty of Graduate Studies and

Research, McGill University.

Sedyawati, E. (1999). Arsitektur Bandingan untuk Kajian Hubungan Antarbudaya. Dalam H.

Chambert-Loir dan H. Ambary (eds.), Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. hal. 176-185. Jakarta: EFEO, Puslit Arkenas, Yayasan Obor Nusantara.

Sumintarsih, dkk. (2007). Toponim Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Pariwisata, Seni dan

Budaya Kota Yogyakarta.

Sunarmi, Guntur, dan T. P.Utomo. (2007). Arsitektur dan Interior Nusantara Seri Jawa. Surakarta: ISI Surakarta.

Thorn, W. (2004). The Conquest of Java. Introduction by John Bastin. Jakarta: PT Java Books

Indonesia.

Yuniastuti, T., S. H. Wibowo, dan Sukirman. 2014. “Mengungkap Sejarah Arsitektur Dalem

Mangkubumen Yogyakarta Periode Tahun 1874-1949”. Simposium Nasional RAPI XIII

- 2014 FT UMS, A: 97-104.

h HASIL DISKUSI

Sutrisno Murtiyoso (LSAI)

Tanggapan:

- Dalem Pangeran Adipati Anom merupakan rumah putra mahkota calon penerus takhta Kesultanan Yogyakarta. Kadipaten menjadi sub-kompleks penting dalam kawasan keraton, yang pada tahun 1812 ketika pasukan Inggris menyerang keraton Yogkarta (Perang Sepoy) berada di sebelah timur keraton. Ini merupakan kajian menarik dan sangat bagus jika bisa dibukukan, karena yang saya tahu belum ada yang meneliti dan merekonstruksi masalah Kadipaten ini. Selain itu sepengetahuan saya tidak ada jejak bangunan (lain) yang ditemukan, selain yang biasa kita lihat

saat ini, sehingga bila dapat dikaji dengan lebih komprehensif, seperti dikaitkan dengan masa Sultan Agung atau sejak Kerajaan Mataram Islam pertama kali berdiri maka ini akan menjadi penelitian yang menarik.

Jawaban:

- Terima kasih. Keinginan untuk membukukan memang ada namun tentu masih diperlukan banyak penyempurnaan dan kajian yang lebih mendalam.

Siwikarno Aryani (MGMP Bandung)

Pertanyaan:

- Mengapa keraton Yogyakarta masih bisa eksis sampai saat ini?

Jawaban:

- Menurut pendapat saya pribadi, hal tersebut salah satunya dikarenakan masyarakat sangat menghargai sejarah dan budaya keraton. Tokoh-tokoh besar yang lahir dari keraton, contohnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan sosok pemimpin yang begitu disegani dan dicintai warganya. Budaya dan tradisi keraton yang terus berusaha dipelihara, sistem pemerintahannya keraton yang ‘merakyat’dan sederhana, serta banyaknya pelibatan masyarakat dalam upacara dan ritual (seperti Sekaten, Grebeg, dsb) menumbuhkan rasa ‘memiliki’ terhadap sejarah dan budaya keraton dalam masyarakat serta memunculkan kesadaran untuk turut serta melestarikannya. Rasa kecintaan akan sejarah dan budaya keraton juga ditumbuhkan sejak kecil kepada masyarakat Yogyakarta khususnya yang tinggal di sekitar keraton, sebagai contoh adalah tetangga saya yang kebetulan merupakan abdi dalem cilik keraton. Ia berangkat ke keraton bersama dengan kakeknya yang juga abdi dalem keraton dengan menggunakan setelan jawa (lurik dan blangkon) dan menaiki sepeda onthel.