BAHASA AUSTRONESIA DARI SUMATERA

Isi Artikel Utama

Retno Purwanti

Abstrak

Austronesia merupakan suku bangsa terbesar yang mendiami wilayah Indonesia. Kajian mengenai tanah asal suku bangsa  melayu-polynesia ini menarik dikaji dari berbagai aspek, baik dari arkeologi, sejarah, dan bahasa. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide dan pesan antar manusia mulai muncul pada permulaan abad ke Sembilan belas. Marsden berpendapat bahwa penduduk kepulauan Pasifik berasal dari Asia (dari wilayah Tartar). Hanya penduduk dibagian barat kepulauan pasifik yang ia maksudkan tentu Melanesia kemungkinan besar berasal dari irian. Tonggak pegangan Marsden lebih condong pada pertimbangan terhadap kesukubangsaan dari pada fakta kebahasaan. Setelah itu muncul beberapa teori mengenai asal usul bahasa. Kajian terbaru menganggap bahwa asal usul bahasa Austronesia dari Kalimantan. Bahkan ada yang mengatakan dari Sumatera. Hampir semua kajian bahasa didasarkan pada aspek linguistik dan tidak menyertakan data materi. Penelitian terhadap prasasti dan manuskrip yang terdapat di Sumatera bagian Selatan sejak tahun 2009-2019 memberikan gambaran bahwa bahasa Melayu sudah digunakan di daerah ini pada abad ke-7 Masehi. Prasasti-prasasti dari masa Kedatuan Sriwijaya sebagian besar menggunakan bahasa Melayu. Pada masa kemudian ditemukan prasasti-prasasti yang dituliskan pada timah, tanduk, rotan, dan bambu yang ditulis dengan menggunakan aksara lokal dan menggunakan bahasa Melayu. Di Sumatera Selatan sampai tahun 2019 ini tercatat ada 54 bahasa pengakuan (Melayu). Jumlah tersebut belum termasuk bahasa yang digunakan pada prasasti-prasasti dan manuskrip yang ditemukan di Jambi dan Bengkulu. Berdasarkan bukti-bukti prasasti dan manuskrip dapat diduga bahwa bahasa Melayu berasal dari Sumatera.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Purwanti, R. . (2020). BAHASA AUSTRONESIA DARI SUMATERA. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 63-70. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.7
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Andhifani, Wahyu Rizky. (2013a). Aksara dan Naskah Ulu Bengkulu, Peradaban di Pantai Barat Sumatra, Perkembangan Hunian dan Budaya di Wilayah Bengkulu, 286-297. Yogyakarta: Ombak.

---------. (2013b). Naskah Ulu Tanduk Kerbau: Sebuah Kajian Filologi, Forum Arkeologi, 26(2), 145-151.

----------. (2017). Naskah Ulu Kulit Kayu Lubuk Sepang, Jurnal Arkeologi Siddhayatra 22 (1), 41-52.

----------. 2018. Identitas Aksara dan Bahasa di Sumatera Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Sumatera Selatan (tidak terbit).

Bellwood, Peter. (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Blust,RA. 1984/1985. The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspective. Asian Perspective 26: 45-67.

Boechari. 2012 (a). Preliminary Report on the Discovery of an Old Malay Inscription at Sojomerto. Dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm. 349-360.

---------. 2012 (b). An Old Malay Inscription of Sriwijaya at Palas Pasemah (South Lampung). Dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm. 361-384.

--------. (2012c). New Investigations on the Kedukan Bukit Inscription. Dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Hlm. 385-400.

Marsden, William. 2013. Sejarah Sumatra. Depok: Komunitas Bambu.

Marzuki, S. 2002. Menyelusuri Asal-usul Populasi Manusia Indonesia dari Jejak Genetika Molekul. Prosiding Pertemuan Ilmiah Arkeologi IX di Kediri Juli 2002.

Meacham, W. 1984/1985. On the Improbability of Austronesian Origins in South China. Asian Perspective 26: 89-106.

Nasoichah, Churmatin. (2013). Naskah Bambu Namanongon Ribut: Salah Satu Teks dari Batak Mandailing Yang Tersisa, Berkala Arkeologi Sangkhakala, 16 (2), 113-128.

Noerwidi, Sofwan. 2014. Migrasi Austronesia dan Implikasinya terhadap Perkembangan Budaya di Kepulauan Indonesia. AMERTA. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 32, No. 1 Juni 2014, hlm. 1-10.

Oppenheimer, Stephen. 1998. Eden in The East: Draned Continent of Southeast Asia. London: Weinfeld and Nicolson.

Prasetyo, Bagyo. 2006. Austronesian Prehistory from the Perspective of Comparative Megalithic. Truman Simanjuntak, Inggrid H.E. Pojoh, Mohammad Hisyam (eds.), Austronesia Diaspora and the Ethnogenesis of People in Indonesian Archipelago. Jakarta: LIPI Press, hlm. 163-173.

-------. 2016. Austro-Protohistory: The Dispersal of Megaliths in Indonesia Islands. Bagyo Prasetyo, titi Surti Nastiti dan Truman Simanjuntak (eds.) Austronesia Diaspora A New Perspective. Yogyakarta: Gadjah Mada University, hlm. 319-335.

Simanjuntak, Truman (2011). Austronesia Dan Melanesia Di Nusantara Mengungkap Asal Usul Dan Jatidiri Dari Temuan Arkeologis. Yogyakarta: Ombak.

Solheim II, W.G. 1984/1985. The Nusantao Hypothesis, dalam Asian Perspective 26: 77-88.

Tanudirjo, Daud dan Truman Simanjuntak. 2004. Indonesia di Tengah Debat Asal-usul Masyarakat Indonesia, dalam Polemik tentang Masyarakat Austronesia, Fakta atau Fiksi?. Jakarta: LIPI, hlm. 11-32.

Tanudirjo, Daud. 2011. Interaksi Austronesia-Melanesia Kajian Interpretasi Teoritis. Austronesi Melanesia Di Nusantara Mengungkap Asal Usul Dan Jatidiri Dari Temuan Arkeologis. Yogyakarta:Ombak.

Tejowasono, Ninny Susanti, dkk. 2019. Prasasti Timah Di Indonesia Katalog Prassti Timah di Sumatra. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Utomo, Bambang Budi. 2007. Prasasti-Prasasti Sumatra. Jakarta:Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Wiradnyana, Ketut. (2013). Pengaruh Kebudayaan Hoabihn dan Austronesia Prasejarah Di Dataran Tinggi Tanoh Gayo, Berkala Arkeologi Sangkhakala, 16 (2), 30-43.

HASIL DISKUSI

Tidak ada pertanyaan

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama