GEMPA BUMI BATAVIA 1699 DAN 1780: MEMORI KOLEKTIF KEBENCANAAN Batavia’s 1699 and 1780 Earthquake: Disaster Collective Memory

Isi Artikel Utama

Omar Mohtar

Abstrak

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk membangkitkan kembali memori kolektif kebencanaan gempa bumi di Jakarta. Sejarah mencatat, Jakarta yang dahulu bernama Batavia pernah beberapa kali diguncang gempa bumi. Guncangan yang paling besar yang pernah mengguncang Batavia adalah gempa bumi tahun 1699 dan 1780. Gempa bumi tahun 1699 membuat kerusakan yang cukup parah. Banyak bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya jaringan air minum dan saluran pembuangan serta kondisi cuaca Batavia saat itu yang membuat banyak orang-orang Belanda di Batavia meninggal dunia. Banyaknya orang Belanda yang meninggal membuat Batavia saat itu mendapat julukan graf der Hollanders atau kuburan orang-orang Belanda. Bencana alam yang pernah terjadi di Batavia pada masa lalu, sangat penting untuk selalu diingat. Narasi dari sejarah bencana alam, yang dalam tulisan kali ini berfokus pada gempa bumi, dapat menjadi memori kolektif pengingat bencana. Memori kolektif ini kemudian menjadi penting sebagai salah satu cara agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana gempa bumi menjadi lebih waspada terhadap bencana yang mengintai mereka. Sebagai manusia, hendaknya sesekali melihat ke masa lalu agar dapat memahami bencana yang pernah terjadi. Dengan demikian, kita dapat mengetahui potensi bencana yang mungkin akan terjadi di masa depan dan menjadi lebih siap untuk menghadapinya.             

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Mohtar, O. . (2021). GEMPA BUMI BATAVIA 1699 DAN 1780: MEMORI KOLEKTIF KEBENCANAAN: Batavia’s 1699 and 1780 Earthquake: Disaster Collective Memory. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 4(1), 74-82. https://doi.org/10.24164/prosiding.v4i1.7
Bagian
Artikel

Referensi

Arif, Ahmad. (2013). Hidup Mati di Negeri Cincin Api. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Arsip Nasional Republik Indonesia. Marginalia dari Catatan Harian 1659-1807. Diambil dari https://sejarah-nusantara.anri.go.id/

De Java Bode. 28 Agustus 1883.

De Locomotief. 22 Oktober 1878.

Desfandi, Mirza. (2019). Kearifan Lokal Smong dalam Konteks Pendidikan (Revitalisasi Nilai Sosial-Budaya Simeulue. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.

Geria, I Made. (2012). Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hageman, J. (1868). Over de beweerde uitbarsting van den Goenoeng Salakh in 1699. In Natuurkundig Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie (pp. 343--355).

Hamzah Latief, Ardito M. Kodijat, Dominic Oki Ismoyo, Bustamam, Dini Adyasari, Navisa Nurbandika, Harkunti Pertiwi Rahayu. (2016). Air Turun Naik di Tiga Negeri Mengingat Tsunami di Ambon 1950. Jakarta: UNESCO.

Hasan, Hamid. (2019). Pendidikan Sejarah dalam Rangka Pengembangan Memori Kolektif dan Jatidiri Bangsa. November 14, 2020, dari http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/pendidikan-sejarah-dalam-rangka-pengembangan-memori-kolektif-dan-jatidiri-bangsa/

Hinga, Bethany. D. Rinard. (2015). Ring of Fire: An Encyclopedia of the Pacific Rim’s Earthquakes, Tsunamis, and Volcanoes. California: ABC-CLIO.

Kanumoyoso, Bondan. (2011). Beyond the City Wall: Society and Economic Development in the Ommelanden of Batavia, 1684-1740. Leiden University.

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Sleman: Penerbit Tiara Wacana.

Lombard, Denys. (1996). Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lyell, Charles. (1856). Principles of Geology. New York: D. Appleton.

Mardiatno, D., G. I Marliyani., dan S. R. L Sampurno,. (2019). Merawat Ingatan: Bencana Alam dan Kearifan Lokal di Pulau Jawa. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Melacak Tapak Observatorium Tertua di Indonesia. (2015). Diambil dari https://nationalgeographic.grid.id/read/13297532/melacak-tapak-observatorium-tertua-di-indonesia?page=all

Nguyen, N., J. Griffin., A. Cipta., dan P. R Cummins,. (2015). Indonesia’s Historical Earthquakes: Modelled examples for improving the national hazard map. https://doi.org/10.11636/record.2015.023

Pusat Data dan Analisa Tempo. (2019). Mengukur Daya Tahan Kota Jakarta Menghadapi Gempa Besar. Jakarta: Tempo Publishing.

Radermacher, J. C. M . (1780). Bericht wegens de zwaare aardbeving, van den 22 January 1780. Dalam Verhandelingen van Het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (pp. 51--59). Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen.

Read, Robert Dick. (2005). Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika. Bandung: Penerbit Mizan.

Taim, Eka Asih Putrina. (2004). Gedung-gedung Tua: Refleksi Adaptasi Masyarakat Belanda di Batavia. Kalpataru Majalah Arkeologi, 17, 62--84.

Tim Kompas. (2008). Ekspedisi Anjer - Panaroekan Laporan Jurnalistik Kompas. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Utama, Wildan Sena. (2012). Kehidupan Sosial-Budaya Masyarakat Tionghoa di Batavia 1900an-1930an. Lembaran Sejarah, 9(1), 19–38.

Wichmann, Arthur. (1918). Die Erdbeben des indischen Archipels bis zum Jahre 1857. Amsterdam: Johannes Müller.

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Apakah Belanda pernah melakukan penelitian terhadap naskah-naskah tradisi yang terkait dengan bencana? Apakah di masa lalu (dalam konteks masa Hindia-Belanda) ada komunitas terkenal yang menuliskan berita tentang kebencanaan?

Jawaban

Terkait catatan sejarah kebencanaan yang merujuk pada naskah-naskah tradisi, Arthur Wichmann dalam menyusun Katalog Wichmann salah satunya menggunakan rujukan sebuah karya dari Ronggowarsito berjudul “Pusaka Raja Jawa”. Seperti yang sudah dijelaskan pula oleh Pak Eko, selain melalui catatan arsip, Wichmann juga menggunakan karya tradisi sebagai referensi. Untuk komunitas terkenal yang biasa menulis berita tentan kebencaan salah satunya adalah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.