PERSEBARAN SITUS-SITUS MEGALITIK DI LERENG TENGGARA GUNUNG SLAMET: BUKTI DETERMINISME MANUSIA INDONESIA PADA LINGKUNGAN

Isi Artikel Utama

Ary Sulistyo

Abstrak

Megalitik merupakan salah satu bukti dari budaya Austronesia yang masih ada di wilayah Indonesia sejak millennium pertama sebelum masehi. Situs-situs megalitik yang ditemukan di lereng Tenggara Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah ini adalah bukti determinime lingkungan manusia pada masa lalu. Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif menunjukkan bahwa situs-situs dengan jarak ke sumber air (sungai atau mata air) kurang dari 100 m (7 situs), ketinggian 100-500 m (9 situs), kelerengan 15-25% (6 situs), batuan kuarter muda (Qvs) (8 situs) dan bentuk medan perbukitan bergelombang (Pgl) (7 situs) dengan tinggalan berupa menhir, lumpang dan punden berundak, meja batu, pagar batu, jalan batu dan batu telur. Situs-situs tersebut menunjukkan karakter situs campuran (pemujaan dan penguburan), situs pemujaan dan situs objek tunggal. Praktek-praktek pemujaan terhadap nenek moyang masih tetap dijalankan dalam bentuk yang sederhana maupun kompleks di Indonesia. Nilai keberlanjutan dari situs dan budaya megalitik adalah kearifan lokal seperti toleransi dan gotong royong

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Sulistyo, A. . (2020). PERSEBARAN SITUS-SITUS MEGALITIK DI LERENG TENGGARA GUNUNG SLAMET: BUKTI DETERMINISME MANUSIA INDONESIA PADA LINGKUNGAN. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 81-90. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.9
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, H.S. 1997. “Arkeologi-Pemukiman: Asal Mula Dan Perkembangannya.” Humaniora V: 15–24.

Asdak, Chay. 2004. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Asmar, Teguh. 1975. “Megalitik Di Indonesia Ciri Dan Problimnya.” Buletin Yaperna VII: 19–28.

Atmosudiro, Sumijati. 1977. “Tinjauan Tentang Beberapa Tradisi Megalitik Di Daerah Purbalingga (Jawa Tengah).” In Pertemuan Ilmiah Arkeologi, 98–107. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional. 2001. “Peta Rupabumi Digital Lembar Bobotsari, Karangmoncol Dan Purbalingga Skala 1:25.000.” Bogor.

Bellwood, Peter. 1978. Man’s Conquest of the Pasific: The Prehistory of Southeast Asia and Oceania. Auckland: William Collins Publishers.

Bemmelen, Van. 1970. The Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes Vol. 1A. The Hague: Government Printing Office.

Butzer, Karl W. 1982. Archaeology as Human Ecology: Method and Theory for A Contextual Approach. Cambridge: Cambridge University Press.

Djuri, M., et.al. 1996. “Peta Geologi Lembar Purwokerto Dan Tegal Jawa Skala 1:100.000.” Bandung.

Fox, James F. 1998. “Megalithic Rituals.” In Indonesia Heritage: Religion and Ritual 9, edited by James J. Fox, 106–7. Jakarta: Archipelago Press.

Heekeren, H.R. Van. 1958. “The Bronze-Iron Age of Indonesia.” In Verhandelingen van Het Koninklijk Instituut Voor Taal-, Land- En Volkenkunde XXII. Heemstede: S’Gravenhage-Martinus Nijhoff.

Heekeren, H.R. Van. 1972. The Stone Age of Indonesia. The Hague: Martinus Nijhoff.

Hodder, I. and Orton, C. 1976. Spatial Analysis in Archaeology. Cambridge: Cambridge University Press.

Hoop, A.N.J.Th.A.Th. Van Der. 1932. Megalithic Remains in South-Sumatra. Netherland: W.J. Thieme & Cie, Zutphen.

Moran, Emilio, F. 1979. Human Adaptability: An Introduction to Ecological Anthropology. Massachussetts: Duxbury Press.

Mundardjito. 1990. “Metode Penelitian Pemukiman Arkeologis.” In Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono, 11–26. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Nitihaminoto, Gunadi. 1976. “Catatan Sementara Tentang Temuan-Temuan Prasejarah Dari Kabupaten Purbalingga.” Majalah Arkeologi Kalpataru 2: 7–17.

Pardyanto, et al. 1971. “Penafsiran Potret Udara Daerah Gunung Slamet Dan Sekitarnya.” Bandung.

Prasetyo, Bagyo. 2006. “A Role of Megalithic Culture in Indonesian Cultural History.” In Archaeology: Indonesia Perspective R.P. Soejono’s Festschrift, edited by Simanjuntak et. al., 282–92. Jakarta: Indonesia Institute of Science.

Prasetyo, Bagyo. 2015. Megalitik Fenomena Yang Berkembang Di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Priyatno, Hadi, S. et al. 2000. “Pola Sebaran Situs Megalitik Di Lereng Gunung Slamet Bagian Timur Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.” Yogyakarta.

Rambo, Terry. 1983. “Conceptual Approaches to Human Ecology.” East West Environment and Policy Research Report. Vol. 14. Hawaii.

Ramelan, Wiwin, D. 1989. “Beberapa Pendekatan Konseptual Antropologi Ekologi: Kemungkinan Penerapannya Dalam Arkeologi Ekologi.” In Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, 232–45. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Renfrew, C and Bahn, P. 1991. Archaeology: Theories, Methods and Practices. London: Thames and Hudson.

Sharer, R.J. and Ashmore, W. 1976. Fundamentals of Archaeology. California: Benjamins/Cummings.

Simanjuntak, Harry Truman. 2019. “Diaspora Austronesia Dalam Perspektif Regional Dan Global.” Seminar Nasional Arkeologi “Indonesia Rumah Besar Austronesia Dari Masa Prasejerah Hingga Kini,” 19-21 November 2019. Bandung.

Simanjuntak, Harry Truman, et al. 1986. “Laporan Penelitian Arkeologi Limbasari.” Jakarta.

Sudiono. 2000. “Peninggalan Prasejarah Di Kabupaten Purworejo.” Kalpataru Majalah Arkeologi 14: 29–50.

Sukendar, H. 1993. “Arca Menhir Di Indonesia: Fungsinya Dalam Peribadatan.” Universitas Indonesia.

Sulistyo, Ary. 2008. “Situs-Situs Megalitik Di Daerah Tenggara Gunung Slamet Purbalingga Jawa Tengah: Kajian Lingkungan Fisik Dan Karakteristik Situs.” Universitas Indonesia.

Triwurjani, Rr. 2018. “Tinggalan Megalitik Di Kawasan Pasemah Sumatera Selatan: Kajian Arkeologi Publik.” Kalpataru Majalah Arkeologi 1 (No.1): 61–72.

Watson, P.J., LeBlanc, S.A. and Redman, C. 1983. Explanation in Archaeology: An Explicitly Scientific Approach. New York: Columbia University Press.

Zuidam, Van, et.al. 1977. “Geomorphology of the Serayu River Basin Central Java.” International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC), The Netherlands, 624–43.

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Drs. Nanang Saptono, M.I.L. (Balai Arkeologi Jawa Barat)

Objek batu yang berlubang banyak. Pernah ditemukan di Pungung Raharjo objek yang mirip di dekat suatu kolam sehingga kolam tersebut dinamakan kolam megalitik. Bila megalitik berarti berkaitan dengan religi. Di beberapa lokasi di Lampung, terdapat tempat mandi umum yang disebut kuwean dan memiliki objek batu berlubang. Batu berlubang tersebut digunakan untuk menumbuk kelapa yang dibakar dan minyak yang dihasilkan digunakan untuk keramas agar menghilangkan uban serta untuk gosok gigi agar mencegah sakit gigi. Apakah batu dakon pada Gunung Slamet ditemukan di dekat air? Lubang pada batu dakon cenderung teratur. Pada salah satu penelitian ditemukan batu berlubang di bawah pohon asem yang diperkirakan terbentuk karena tetesan air pohon asem. Apakah batu dakon Gunung Slamet juga terbentuk seperti itu atau sengaja dibuat untuk tujuan sakral? Bagaimana konteks batu dakon tersebut?

Jawaban

Survei awal tahun 2007, terdapat satu batu dakon menarik yang ditemukan di atas punden dan berada dekat dengan sumber air. Karakter yang ada pada suatu situs megalitik dapat menentukan apakah situs tersebut adalah situs religi. Ada karakter yang bersifat pemujaan, penguburan, atau hanya objek tunggal. Bila situs tersebut hanya terdiri dari objek tunggal maka objek tersebut sudah lepas dari benda asosiasinya. Batu dakon terdapat dalam konteks punden sehingga situs tersebut tergolong dalam situs pemujaan (sakral). Walaupun di tempat lain, batu dakon atau batu berlubang memiliki fungsi yang profan. Bukan mengarah pada suatu religi atau pemujaan, namun melihat dari karakter situs tersebut.