TEKS DAN KONTEKS DALAM JEJAK BUDAYA TAKBENDA STUDI KASUS: BABASAN DAN PARIBASA SUNDA

Isi Artikel Utama

Yayat Hendayana

Abstrak

Babasan (perumpamaan) dan paribasa (peribahasa) yang terdapat dalam bahasa Sunda, merupakan warisan budaya takbenda yang masih tetap hidup dan digunakan oleh masyarakat Sunda hingga saat ini. Bahasa Sunda termasuk rumpun bahasa-bahasa Austronesia, yang mempunyai hubungan erat dengan rumpun bahasa Austro-Asia. Keduanya disebut sebagai rumpun bahasa Austris. Bahasa Sunda merupakan anggota dari keluarga bahasa yang besar dan penting sekali di dunia. Bahasa Sunda mengenal tiga tahapan perkembangan, yaitu bahasa Sunda Buhun (kuno), bahasa Sunda Klasik (peralihan) dan bahasa Sunda Kiwari (Masa Kini), yaitu bahasa Sunda yang mulai digunakan sejak tahun 1900-an, ketika kolonialisme Belanda mulai melancarkan politik balas budi (politik etis). Sejak saat itulah awal mula berkembangnya perumpamaan dan pribahasa dalam bahasa Sunda, yang masih tetap digunakan di zaman kini. Babasan dan paribasa tersebut merupakan teks yang diciptakan oleh para leluhur (Sunda) ketika itu, yang sudah tentu disesuaikan dengan kebutuhan zamannya, dengan konteksnya. Zaman sudah berubah. Konteks pun berubah pula. Babasan dan paribasa produk para leluhur Sunda itu tentu saja tidak semuanya cocok untuk digunakan pada masa sekarang, yang sudah jauh berubah dari masa lalu. Pikiran bahwa semua produk masa lalu bersifat adiluhung (berkualitas sangat tinggi) tidak sepenuhnya benar.. Terhadap babasan dan paribasa yang merupakan produk masa lalu itu harus dilakukan langkah-langkah penyesuaian bertahap agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari zaman kini. Langkah-langkah bertahap itu ialah: (1) reseleksi, (2) redeskripsi, (3) reorientasi, dan (4) reimplementasi.

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Hendayana, Y. . (2020). TEKS DAN KONTEKS DALAM JEJAK BUDAYA TAKBENDA STUDI KASUS: BABASAN DAN PARIBASA SUNDA. Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 3(1), 215-223. https://doi.org/10.24164/prosiding.v3i1.24
Bagian
Artikel

Referensi

DAFTAR PUSTAKA

Al Wasilah, Chaedar. 2006. Pokoknya Sunda. Bandug:UPI

Sumarsono, Tatang. 2001. Babasan jeung Paribasa Sunda. Bandung: Geger

Sunten

Suryani, Elis. 2011. Sejarah Prkembangan Aksara dan Bahasa Sunda dalam buku Sejarah Kebudayaan Sunda. Bandung: YMSI

HASIL DISKUSI

Pertanyaan

Dr. Retno Purwanti, M.Hum (Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Saya kurang faham mengenai Bahasa Sunda, namun yang saya tahu seperti ini Pak, di tatar sunda berkembang beberapa kerajaan yang masa kuno ada Kesultanan Banten, Sumedang, Cirebon. Nah dalam sejarah perkembangan institusi kerajaan berbeda ini, apakah masa-masa kemudian ini ada persinggungan? adakah saat Bahasa Jawa lebih dominan digunakan dibandingkan dengan Bahasa Sunda atau Bahasa Jawa ini hanya dipakai di lingkungan keraton saja?

Jawaban

Seperti lazimnya di berbagai daerah, kebudayaan selalu saja timbul tenggelam seperti halnya dengan kerajaan. Kerajaan-kerajaan dengan nama Warman (Mulawarnan, Purnawarman) itu pasti kerajaan dengan pengaruh Hindu-Budha. Kerajaan yang menggunaan penaaman Kerajaan Galuh dan Kerjaan Sunda sudah pasti ada pengaruh dari agama asli Sunda. Kerjaan-kerajaan yang menggunakan nama lokasi seperti Kerajaan Cirebon, Sumedang Larang itu kerajaan baru yang sudah mendapat pengaruh dari Jawa. Misalnya Kerajaan Cirebon bertengkar hebat dengan Sumedang Larang tetapi karena pengaruh kekuasaan politik Jawa yang begitu besar terhadap Cirebon, sehingga Cirebon menganggap Sumedang Larang sebagai musuh. Sudah pasti perubahan itu akan menyebabkan kebudayaan lama terpaksa harus berhubungan dengan kebudayaan baru. Saya kira itu. Terkait dengan Bahasa Sunda, saya kira kata “aing” itu tidak kasar pada masa itu, di Bali juga masih digunakan kata “aing”.